Kenaikan Harga Beras Bikin Warga Resah di Jakut

Warga di berbagai wilayah Jakarta Utara saat ini tengah merasakan dampak dari Kenaikan Harga Beras yang signifikan, memicu keresahan dan kekhawatiran akan daya beli. Komoditas pokok ini, yang menjadi makanan utama sebagian besar masyarakat Indonesia, mengalami lonjakan harga yang cukup drastis dalam beberapa waktu terakhir, menambah beban ekonomi rumah tangga, terutama bagi kalangan menengah ke bawah.

Kenaikan Harga Beras ini sudah terasa sejak awal bulan Mei 2025 dan terus merangkak naik hingga akhir bulan. Berdasarkan pantauan di beberapa pasar tradisional di Jakarta Utara, seperti Pasar Koja dan Pasar Sunter, harga beras jenis medium yang sebelumnya berkisar Rp 12.000-Rp 13.000 per kilogram, kini telah mencapai Rp 15.000-Rp 16.000 per kilogram. Sementara itu, beras jenis premium bahkan menembus angka Rp 18.000 per kilogram. Lonjakan harga ini tentu saja sangat membebani pengeluaran harian masyarakat.

Ibu Tina (48 tahun), seorang ibu rumah tangga di Tanjung Priok, Jakarta Utara, mengungkapkan keluhannya pada hari Rabu, 28 Mei 2025. “Harga beras sekarang ini sudah sangat mahal. Kalau terus naik begini, bagaimana kami bisa memenuhi kebutuhan makan sehari-hari? Pengeluaran jadi membengkak semua,” ujarnya dengan nada khawatir saat ditemui di Pasar Koja. Para pedagang beras di pasar juga merasakan dampak dari Kenaikan Harga Beras ini, di mana daya beli konsumen menurun drastis dan omzet mereka ikut tergerus.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) diharapkan dapat segera mengambil langkah-langkah strategis untuk menstabilkan harga. Beberapa upaya yang bisa dilakukan antara lain dengan memperketat pengawasan terhadap rantai distribusi, memastikan pasokan beras dari daerah sentra produksi berjalan lancar, serta melakukan operasi pasar jika diperlukan. Bank Indonesia Perwakilan DKI Jakarta dalam laporan bulanan ekonominya pada bulan April 2025 juga telah mencatat bahwa Kenaikan Harga Beras merupakan salah satu faktor penyumbang inflasi di ibu kota. Diharapkan, pemerintah pusat dan daerah dapat segera bersinergi mencari solusi jangka panjang untuk menjaga stabilitas harga pangan, demi kesejahteraan masyarakat luas.

Back to Top