Inovasi unik dilakukan oleh sejumlah petani di wilayah Kediri dalam upaya basmi tikus yang kerap merusak tanaman padi di sawah mereka. Alih-alih menggunakan pestisida kimia yang berpotensi merusak lingkungan, para petani ini memilih cara alami dengan memelihara burung hantu. Langkah ini terbukti efektif dalam basmi tikus secara signifikan, sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem sawah.
Inisiatif basmi tikus dengan memanfaatkan burung hantu ini dipelopori oleh kelompok tani “Sido Makmur” di Desa Sumberjo, Kecamatan Tarokan, Kediri. Ketua kelompok tani, Bapak Slamet (52 tahun), mengungkapkan bahwa ide ini muncul setelah mereka mengalami kerugian yang cukup besar akibat serangan hama tikus yang sulit dikendalikan dengan cara konvensional. Setelah berdiskusi dengan ahli pertanian setempat, mereka mencoba memelihara burung hantu jenis Tyto alba atau serak jawa, yang dikenal sebagai predator alami tikus yang sangat efektif.
Sejak mulai memelihara burung hantu sekitar enam bulan yang lalu, para petani mengaku merasakan dampak positif yang signifikan dalam upaya basmi tikus di sawah mereka. Burung hantu yang dilepas pada malam hari secara aktif berburu tikus yang berkeliaran di area persawahan. Setiap satu ekor burung hantu dewasa diperkirakan mampu memangsa beberapa ekor tikus setiap malamnya. Hal ini secara drastis mengurangi populasi tikus dan meminimalisir kerusakan tanaman padi.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kediri, Ir. Bambang Sudarsono, saat melakukan kunjungan ke kelompok tani “Sido Makmur” pada Sabtu pagi, 3 Mei 2025, mengapresiasi inisiatif para petani dalam basmi tikus secara alami ini. Menurutnya, cara ini tidak hanya efektif dalam mengendalikan hama tikus, tetapi juga ramah lingkungan dan mendukung praktik pertanian berkelanjutan. Dinas Pertanian berencana untuk memberikan dukungan lebih lanjut kepada kelompok tani ini dan mensosialisasikan metode basmi tikus menggunakan burung hantu kepada petani lain di wilayah Kediri.
Keberhasilan para petani di Kediri dalam memanfaatkan burung hantu untuk basmi tikus menjadi contoh inspiratif bagi daerah lain yang menghadapi masalah serupa. Selain efektif dan ramah lingkungan, cara ini juga dapat meningkatkan keanekaragaman hayati di area persawahan. Diharapkan, semakin banyak petani yang mengadopsi metode alami ini untuk mengendalikan hama tikus dan mewujudkan pertanian yang lebih berkelanjutan.